TERKINI
KTT Global Capai Kesepakatan Bersejarah Target Reboisasi Ekosistem Tropis RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada Sistem Registri Nasional Komitmen Restorasi 30% Lahan Gambut dan Hutan Mangrove Pesisir

GPS Collar Pantau Pergerakan Gajah Sumatra di Mukomuko

MUKOMUKO - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu memasang perangkat GPS collar pada seekor gajah sumatra liar di Bentang Alam Seblat, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, untuk memantau pergerakan satwa dan membantu mengurangi risiko konflik...
GPS Collar Pantau Pergerakan Gajah Sumatra di Mukomuko
Foto liputan: GPS Collar Pantau Pergerakan Gajah Sumatra di Mukomuko Sumber: Dok. Redaksi Garis Bumi

MUKOMUKO - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu memasang perangkat GPS collar pada seekor gajah sumatra liar di Bentang Alam Seblat, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, untuk memantau pergerakan satwa dan membantu mengurangi risiko konflik dengan manusia.

Pemasangan dilakukan pada Sabtu, 22 Agustus 2026, dan diumumkan Kementerian Kehutanan pada 27 Agustus.

Gajah yang dipasangi perangkat merupakan betina dengan bobot diperkirakan 2,8 hingga 3 ton. Sebelum GPS collar dipasang, tim melakukan pemeriksaan kesehatan dan mengambil sampel darah serta feses untuk analisis laboratorium.

GPS collar memungkinkan petugas memperoleh data lokasi dan pola pergerakan satwa secara berkala. Informasi tersebut digunakan untuk mengetahui wilayah jelajah, mengidentifikasi arah pergerakan kawanan, serta memperkirakan risiko ketika gajah mendekati kebun atau permukiman.

Kepala BKSDA Bengkulu Agung Nugroho mengatakan data pergerakan yang lebih akurat dapat membantu petugas merespons potensi konflik manusia dan gajah dengan lebih cepat, sekaligus menjadi dasar pengelolaan habitat.

Setelah pemasangan selesai, perangkat dilaporkan aktif dan gajah kembali bergerak di habitatnya.

BKSDA Bengkulu berencana memasang perangkat serupa pada kawanan gajah lainnya.

Pemantauan melalui teknologi GPS juga tetap dipadukan dengan patroli lapangan oleh Tim Angon Gajah Liar. Tim tersebut mengikuti pergerakan kawanan sekaligus mengidentifikasi dan memusnahkan potensi ancaman, seperti jerat atau bahan berbahaya yang ditemukan di jalur gajah.

Penggunaan GPS collar tidak dengan sendirinya menyelesaikan konflik manusia dan satwa.

Data yang diperoleh harus diterjemahkan menjadi langkah pengelolaan habitat, perlindungan koridor pergerakan, sistem peringatan kepada masyarakat dan penanganan cepat ketika gajah bergerak mendekati area aktivitas manusia.

Dengan cara itu, teknologi menjadi alat untuk membantu keputusan konservasi, bukan sekadar mengetahui posisi satwa di peta.

SUMBER REDAKSI: Kementerian Kehutanan/BKSDA Bengkulu, 27 Agustus 2026.

Bagaimana menurut Anda tentang liputan ini?

Beri reaksi pembaca untuk mengapresiasi karya jurnalistik ini:
AG
Agung SP Jurnalis Terverifikasi

Berfokus pada liputan mendalam krisis iklim, keanekaragaman hayati nusantara, dan kebijakan transisi energi bersih berkeadilan sosial bagi masyarakat tapak.

ARTIKEL SEBELUMNYA BRIN Kembangkan Retardan Karhutla Berbasis Pati Singkong ARTIKEL BERIKUTNYA Anak Muda Sumsel Belajar Cegah Karhutla Sebelum Api Membesar
Diskusi & Komentar Pembaca (0)

Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi

Tanggapan akan disaring dan diverifikasi redaksi terlebih dahulu sebelum terbit.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua di Rubrik TEKNOLOGI
📅 54 minutes ago
📅 48 minutes ago
📅 49 minutes ago
Tautan artikel berhasil disalin ke clipboard!